Sabtu, 23 November 2013

BANGA SEBAGAI PEMILIH PEMULA

"Karena dengan ikut mencoblos, berarti kita menyumbangkan satu suara untuk memimpin suatu daerah
, dengan ikut memilih orang nomor satu , kita juga menentukan masa depan kita sendiri.

"Karena yang menarik dari pilkada adalah program kerja atau janji-janjinya. Kalau yang kita pilih menang, kita akan menagih janjinya," tambah Setia, yang mengaku bangga kalau jarinya nanti akan berwarna biru oleh tinta pemilu.
 satu suaranya bakal menentukan masa depan suatu daerah, dan menganggap momen ini sebagai bukti pendewasaan diri kita
"Suaranya sih cuma kecil, satu suara doang, tapi menentukan siapa pemimpin kita. Aku sih seru aja, bakal bisa menentukan siapa orangnya. Kalau sebagai pelajar senang dan bangga udah dewasa,"

sejatinya kita jadikan sebagai salah satu ikhtiar dalam mencari sosok pemimpin bangsa yang mampu mengemban amanah dalam rangka mensejahterakan rakyat. Dalam konteks ini kita sebagai pendidik memiliki kewajiban moral dalam memberikan pemahaman tentang hak dan kewajiban politik warga negara kepada para peserta didik yang notabene adalah pemilih pemula. Jika saja mereka tidak memiliki pemahaman yang baik tentang proses politik serta gambaran tentang jejak rekam parpol, dikhawatirkan akan mudah digiring untuk memilih caleg atau parpol tertentu yang sebenarnya belum tentu mampu untuk mengakomodasi aspirasi mereka. Lebih jauh lagi, massifnya pemberitaan tentang kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh kader parpol dikhawatirkan akan membuat remaja bersikap apatis terhadap politik yang pada akhirnya tidak menggunakan hak pilihnya alias golput. Untuk memberikan pengetahuan tentang proses politik tersebut diperlukan sebuah proses pendidikan politik kepada peserta didik agar memiliki pemahaman yang utuh. Dan ini bukan hanya tugas dari guru PKN semata namun tanggung jawab kita semua. Adapun bentuk pendidikan politik tersebut bisa berupa seminar sehari yang diselenggarakan oleh pihak sekolah dengan mengundang pihak KPUD setempat dan juga perwakilan dari beberapa partai politik sebagai nara sumber. Selain cara diatas, pendidikan politik juga dapat dilakukan melalui sosio drama yang dilakukan dikelas sehingga pembelajaran menjadi menarik. Dalam hal ini masing-masing siswa memiliki tugas sesuai dengan perannya masing-masing. Ada yang yang berperan sebagai penyelenggara Pemilu atau KPU, sebagai Caleg sampai dengan siswa yang berperan sebagai juru kampanye maupun sebagai rakyat biasa. Dengan begitu siswa diajak secara langsung berpartisipasi dalam proses politik. Selain itu tak kalah pentingnya adalah pesan moral tentang pentingnya proses politik yang disisipkan dalam kegiatan tersebut. Jika memungkinkan, dokumentasikan kegiatan tersebut kemudian upload ke Youtube. Dengan begitu mereka pun akan bangga karena penampilan mereka dapat disaksikan oleh orang banyak sekaligus dapat dijadikan inspirasi bagi siswa lainnya. Melalui proses pendidikan politik secara utuh kepada para remaja, kita berharap mereka tidak salah dalam menentukan pilihan karena merekalah yang akan menentukan maju atau tidaknya bangsa ini setidaknya untuk waktu lima tahun kedepan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar